
GERD: Kebiasaan Yang Dapat Memicu Keluhan Asam Lambung
GERD atau gastroesophageal reflux disease merupakan kondisi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, berulang kali naik ke kerongkongan. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa panas di dada, sensasi asam atau pahit di mulut, hingga makanan terasa kembali ke tenggorokan. Selain itu, sebagian orang dapat mengalami mual, nyeri dada, batuk kronis, atau suara serak.
Keluhan tersebut terkadang muncul setelah seseorang melakukan kebiasaan tertentu. Oleh karena itu, mengenali pola yang dapat memperburuk gejala menjadi salah satu langkah penting dalam mengelola GERD. Meskipun demikian, pemicu setiap orang tidak selalu sama sehingga seseorang perlu memperhatikan respons tubuhnya.
Pola Makan Yang Kurang Teratur Dapat Memperburuk Keluhan GERD
Pola Makan Yang Kurang Teratur Dapat Memperburuk Keluhan GERD. Salah satu kebiasaan yang perlu di perhatikan adalah pola makan yang kurang teratur. Makan dalam jumlah besar, terutama menjelang waktu tidur, dapat membuat keluhan refluks lebih mudah muncul pada sebagian orang. Karena itu, pengaturan waktu makan dapat membantu mengurangi kemungkinan gejala, terutama pada malam hari.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), orang dengan GERD yang mengalami gejala ketika berbaring dapat terbantu dengan memberikan jarak setidaknya tiga jam antara waktu makan dan berbaring atau tidur.
Selain waktu makan, jenis makanan juga perlu di perhatikan. Beberapa makanan dan minuman yang sering di kaitkan dengan memburuknya gejala antara lain makanan tinggi lemak, makanan pedas, cokelat, kopi atau sumber kafein, makanan asam seperti jeruk dan tomat, mint, serta minuman beralkohol. Namun, bukan berarti semua makanan tersebut pasti menimbulkan keluhan pada setiap orang.
Dengan demikian, mencatat makanan yang di konsumsi dan waktu munculnya gejala dapat menjadi cara sederhana untuk mengenali pemicu pribadi.
Langsung Berbaring Setelah Makan Perlu Dihindari
Kebiasaan lain yang juga perlu di perhatikan adalah langsung berbaring setelah makan. Ketika tubuh segera berada dalam posisi berbaring, isi lambung lebih mudah bergerak kembali menuju kerongkongan pada orang yang rentan mengalami refluks. Akibatnya, sensasi panas di dada atau rasa asam di tenggorokan dapat terasa lebih mengganggu.
Selain itu, kebiasaan makan dalam porsi besar kemudian langsung tidur juga dapat membuat pengelolaan gejala menjadi lebih sulit. Oleh sebab itu, memberikan jeda setelah makan sebelum berbaring merupakan langkah yang cukup sederhana untuk di terapkan.
Di samping itu, berat badan juga dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan GERD. NIDDK menyebutkan bahwa orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dapat di sarankan dokter untuk menurunkan berat badan guna membantu mengurangi gejala.
Karena itu, menjaga pola makan yang seimbang dan aktivitas fisik secara teratur dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup yang lebih sehat. Namun, perubahan berat badan sebaiknya di lakukan secara bertahap dan sesuai kondisi masing-masing.
Mengelola GERD tidak selalu berarti harus menghindari semua makanan yang di anggap sebagai pemicu. Sebaliknya, seseorang dapat memperhatikan makanan atau minuman tertentu yang memang berulang kali membuat gejala semakin buruk. Dengan begitu, perubahan pola makan dapat di lakukan secara lebih terarah.
Selain makanan, kebiasaan merokok juga perlu di perhatikan karena merokok dapat memengaruhi mekanisme yang membantu mencegah isi lambung naik ke kerongkongan. Berhenti merokok termasuk salah satu perubahan gaya hidup yang dapat di rekomendasikan dalam penanganan GERD.
Selanjutnya, perubahan kebiasaan sebaiknya di lakukan secara konsisten. Misalnya, mengatur waktu makan, mengurangi makanan yang terbukti menjadi pemicu pribadi, memberikan jeda sebelum tidur, serta menjaga berat badan yang sehat. Dengan demikian, seseorang dapat lebih mudah mengetahui kebiasaan mana yang membantu mengendalikan keluhan GERD.